Menurunkan Kandungan Logam Berat Pada Kerang Hijau

Daging kerang hijau dalam satu dua dekade belakangan ini menjadi salah satu produk perikanan laut yang populer dan merakyat. Popularitas itu didukung oleh nilai gizi yang baik, produksi yang meningkat karena teknik budidaya yang mudah dan murah dan dapat dipanen pada umur 6-7 bulan.

Yang sering menjadi masalah adalah bila perairan pantai yang digunakan untuk budidaya mengalami pencemaran sehingga kandungan logam berat pada kerang hijau meningkat kurang baik bagi kesehatan konsumen. Sebagaimana pada jenis kerang-kerang lainnya, pada daging kerang hijau terakumulasi logam berat karena bersifat filter feeder dan hidup menetap.

Kadar kandungan logam berat dalam dagingnya biasanya lebih tinggi dibanding perairan habitatnya. Bisa dipahami akibatnya bila perairan tempat hidup kerang sudah terpolusi oleh logam-logam berat antara lain oleh limbah industri atau lainnya.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan mengatasi kandungan logam berat yang dinilai cukup tinggi adalah mencari cara menurunkan yang praktis, mudah dan murah sehingga bisa digunakan oleh para produsen/nelayan kecil. Dalam kaitan ini berguna menyimak hasil penelitian yang dilakukan bersama oleh Jovita Tri Murtini dari Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Ahmad Dwi Kurniawan serta Eko Nurcahya Dewi dari Universitas Diponegoro. Yakni bahwa karboksimetil kitosan (KMK) dapat digunakan membantu mengurangi kandungan logam berat Hg dan Pb pada daging kerang hijau hingga batas tertentu.

Para peneliti tersebut mengingatkan bahwa pelaksanaan perlakuan penurunan kadar logam berat pada kerang hijau tidak mesti karena kadar tersebut sudah di atas ambang batas yang ditetapkan otoritas kesehatan nasional atau internasional. Ambang batas yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI maupun FAO/WHO untuk logam berat merkuri (Hg) adalah 500 ppb, untuk timbale (Pb) 2.000 ppb, dan cadmium (Cd) 1.000 ppb.

Namun, kadar yang masih di bawah ambang batas perlu diwaspadai karena efek bioakumulasinya di dalam tubuh manusia yang mengkonsumsi. Keracunan logam berat bisa merusak sistem syaraf dan alat-alat dalam tubuh bahkan ada yang bersifat karsinogen.

Dikemukakan ada berbagai cara penurunan kandungan logam berat pada daging kerang hijau. Di antaranya penukaran ion, penyerapan dengan karbon aktif, dan pengendapan secara eletrolisis. Tetapi cara-cara ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi.
Baca Selengkapnya...

Teknologi Pengolahan Kitin dan Kitosan

Dunia iptek belakangan ini berlomba mengembangkan biopolimer kitin, kitosan serta turunannya sebagai produk komersial untuk berbagai kegunaan yang luas. Bahkan banyak yang melihatnya sebagai biomaterial masa depan yang berperan dalam daya saing industri. Harga bahan-bahan tersebut di pasar terus meningkat mencapai ribuan dolar per ton.

Kitin adalah polimer rantai panjang N-acetylglucosamine, terdapat dalam sebaran luas di alam, di antaranya yang menonjol pada kulit/cangkang dan kepala artropoda seperti krustasea (udang, kepiting, dst) dan serangga, pada moluska, paruh sepalopoda seperti sotong, gurita dan sebagainya.

Kitin pada bahan tersebut biasanya terikat oleh senyawa protein dan mineral, sehingga untuk memperolehnya perlu proses demineralisasi dan deproteinasi. Dalam hal struktur, kitin bisa diperbandingkan sebagai selulosa polisakarida tetapi mengandung nitrogen, sedangkan fungsinya seperti keratin. Kitin hanya bisa diperoleh secara alami karena tidak bisa disintetis.

Kitosan adalah turunan kitin setelah melalui proses deasetilasi, yakni pembuangan unsur asetilnya. Turunan kitosan banyak dikembangkan untuk berbagai tujuan penggunaan.

Kegunaan kitin yang sudah dan sedang dikembangkan antara lain di bidang pertanian sebagai pupuk, menguatkan mekanisme pertahanan tanaman, dan biocontrol. Pada industri untuk pangan dan farmasi sebagai pengisi (thicken) dan stabilisator. Juga sebagai pengikat pada cat, tenunan dan perekat, penguat kertas dst.

Pada pengobatan digunakan sebagai benang operasi, penyembuh asma dst.
Kitosan di bidang pertanian untuk penanganan benih, sebagai penguat pertumbuhan, biopestisida, biocontrol, pupuk, menguatkan pertahanan tanaman dan akar terhadap penyakit dan hama, mengurangi stress, meningkatkan hasil dan mutunya, mengawetkan bunga potong, dsb. Berguna dalam penyaringan air dan menyaring kasein dari susu. Telah dikembangkan pelapis polyurethane (untuk mobil dsb) yang bila tergores bisa pulih sendiri dalam waktu singkat.
Baca Selengkapnya...

Kombinasi "SHS+WMD" Untuk Pengolahan Pangan

Teknologi superheated steam (SHS) sudah dikenal dan digunakan selama lebih dari satu abad sebagai sumber tenaga ataupun medium pengeringan bahan-bahan kimia, kayu dan lainnya.

Sekitar lima dekade yang lalu mulai pula dikembangkan aplikasinya pada industri pengolahan pangan namun masih terbatas. Kendalanya, teknologi SHS untuk berbagai jenis pengolahan tertentu mengandung kelemahan sehingga perlu dicari cara mengatasi.

Salah satu cara mengatasi kelemahan SHS, sebagaimana diungkapkan oleh Itaru Sotome dan Seiichiro Isobe dari National Food Research Institute Jepang di Tsukuba, Ibaraki, Jepang adalah mengkombinasikan teknologi SHS dengan teknologi water mikro droplets (WMD) yang dikembangkan di lingkungan lembaga mereka. Kini penggunaan kombinasi tersebut telah digunakan dalam berbagai jenis pengolahan yang lebih luas produk pangan.

Di Jepang, kombinasi SHS+WMD sudah digunakan untuk pengolahan produk komersial seperti selada kentang, produk olahan daging sapi, daging babi rebus dan pasteurisasi produk perikanan. Sotome dan Isobe dalam uraiannya juga mengemukakan keberhasilan studi mereka mengaplikasikan teknologi kombinasi pada pemucatan/blansing kentang dan pasteurisasi buah ketimun.

SHS adalah penggunaan uap dengan panas tinggi sekali di atas suhu didih air. Penggunaannya pada pengolahan pangan masih terus dikembangkan, namun sudah banyak digunakan pada pengukusan, pasteurisasi, ekstraksi, dekontaminasi mikotoksin dan lainnya. Antara lain dalam pengeringan kentang, pisang, mie, daging unggas, udang, remis, kedelai, padi, pulp gula bit, dll. Belakangan ini sudah dikembangkan SHS tekanan rendah yang telah digunakan untuk meningkatkan kualitas rempah dan obat herbal, kripik kentang dsb.

Keunggulan aplikasi SHS dalam pengolahan adalah terutama pada kinerja pengeringannya dengan pengiriman/penyebaran panas yang efisien oleh panas yang terpendam serta pencegahan oksidasi produk.

Pemanasan dengan SHS memecahkan masalah yang terjadi bila menggunakan pemanasan dengan air panas atau uap jenuh, yakni penyerapan dan peleburan oleh air terhadap bahan padat yang terkandung pada bahan pangan.
Baca Selengkapnya...

Budidaya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii)

Budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta pemanfaatan lahan di pesisir pantai. Teknologi yang sederhana, daya serap pasar yang tinggi dan biaya produksi yang rendah merupakan kelebihan usaha budidaya rumput laut dibandingkan komoditas perikanan lainnya.

Faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya rumput laut antara lain pemilihan lokasi, penggunaan bibit, metode budidaya serta penanganan selama pemeliharaan.

Pemilihan Lokasi Budidaya
Untuk mendapatkan lokasi budidaya yang tepat harus mempertimbangkan faktor resiko, pencapaian ekologis, antara lain:

• Lokasi terlindung dari terpaan angin dan gelombang yang besar untuk menghindari kerusakan fisik rumput laut.
• Dasar perairan yang baik bagi pertumbuhan rumput laut (Kappaphycus sp.) adalah potongan karang mati bercampur dengan pasir karang.
• Kedalaman berkisar antara 30-50 cm pada surut terendah, agar tidak mengalami kekeringan karena terkena sinar matahari secara langsung.
• Salinitas perairan berkisar antara 28-34 ppt dengan nilai optimum 32 ppt.
• Suhu perairan berkisar 27-30°C.
• Kecerahan dengan angka transparansi sekitar 1,5 m.
• Kisaran pH antara 6-9. Nilai optimal diharapkan pada kisaran 7,5-8,0.
• Kecepatan arus yang dianggap baik berkisar antara 20-40 cm/detik prasarana transportasi.

Pengadaan dan Pemilihan Bibit
Pemiiihan bibit dalam budidaya rumput laut merupakan hal yang sangat penting. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

* Bibit yang berupa stek dipilih dari tanaman yang segar, dapat diambil dari alam, tanaman budidaya, atau hasil kultur jaringan.
* Bibit unggul mempunyai ciri bercabang banyak.
* Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi usaha budidaya dalam jumlah yang memadai.
Baca Selengkapnya...

Kemunduran Mutu Ikan dan Teknik Penanganannya

Ikan yang dikonsumsi tubuh manusia sesungguhnya bermanfaat sebagai sumber energi yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari, membantu pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, serta untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kecerdasan.

Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan mengandung asam lemak OMEGA-3 yang di dalamnya terkandung EPA (Eicosapentaenoat acid) dan DNA (Docosahexaenoat Add). OMEGA-3 dikenal sebagai obat yang dapat menjaga dan menurunkan kolesterol. Namun demikian ikan seperti halnya juga komoditas pangan memiliki sifat mudah mengalami kerusakan (perisable). Hal ini karena ikan secara alami mengandung komponen gizi seperti lemak, protein, karbohidrat dan air yang sangat disukai oleh mikroba perusak.

Proses Kemunduran Mutu
Ikan umumnya diperdagangkan baik dalam keadaan sudah mati maupun dalam kondisi masih hidup dalam air. Pada kondisi hidup tentu saja ikan bukan merupakan masalah. Sebaliknya dalam kondisi mati ikan akan segera mengalami kemunduran mutu. Pada ikan yang mati, akan segera terjadi perubahan-perubahan yang mengarah pada terjadinya pembusukan. Perubahan tersebut terutama disebabkan oleh adanya aktivitas enzim, kimiawi dan bakteri.

Enzim yang terkandung dalam tubuh ikan akan merombak bagian-bagian tubuh ikan mengakibatkan perubahan rasa (flavor), bau (odor), rupa (appearance) dan tekstur (texture). Adapun bau tengik (rancid) timbul karena adanya aktivitas kimiawi berupa oksidasi lemak daging yang bersentuhan dengan oksigen udara.

Kerusakan komponen-komponen dalam tubuh ikan oleh aktivitas enzim dan aktivitas kimia akan memicu pertumbuhan bakteri pada tubuh ikan mengingat kondisi tersebut sangat cocok bagi tumbuh kembang bakteri. Faktanya proses kemunduran mutu berlangsung sangat kompleks, sehingga sukar untuk diadakan pengolahan karena satu dengan lainnya saling kait mengait, dan bekerja secara simultan.

Ikan yang memiliki gerakan cepat bila terkena alat tangkap akan lebih cepat memasuki rigor mortis dan busuk. Mengapa? karena gerakan-gerakan tersebut mengakibatkan tergoresnya pusat konsentrasi ikan dan itu berarti memberi ruang bakteri untuk menyerang. Ikan dengan karakter ini seperti gabus, tongkol dan tenggiri.

Ikan-ikan yang berukuran kecil akan membusuk lebih cepat dari pada ikan besar. Ini dirnungkinkan karena komposisi kimianya. Selain itu keadaan udara yang panas, berawan atau hujan, laut yang banyak bergelombang juga akan mempengaruhi mutu ikan.

Teknik Mempertahankan Mutu
Mengingat pembusukan ikan muncul karena aktivitas enzim dan bakteri maka dengan berpedoman pada dua faktor penyebab tersebut harus dilakukan tindakan untuk pencegahannya melalui penghambatan kegiatan enzim dan bakteri serta perlindungan ikan dari kontaminasi bakteri.
Baca Selengkapnya...

Memulihkan Karang yang Memutih

Byur! Satu demi satu penumpang perahu cepat Kambala terjun ke perairan Bante di kawasan perairan Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Cuaca pagi hari itu memang cerah dan laut dalam keadaan tenang sehingga sangat nyaman untuk menyelam. Tapi mereka tidak sedang berwisata bahari. Mereka adalah anggota tim peneliti gabungan The Nature Conservancy (TNC) dan World Wide Fund for Nature (WWF). Keduanya adalah LSM lingkungan terbesar yang telah lama beroperasi di Indonesia.

Hampir dua pekan lebih, sejak 25 Januari lalu, mereka berlayar di laut lepas dengan Kapal Motor Menami. Begitu memasuki wilayah perairan Pulau Binongko, Wakatobi, mereka berhenti. Setelah sarapan nasi, mi instan, dan telur dadar, mereka siap menyelam. Dua perahu cepat Kambala diturunkan. Sesampai di perairan Bante tadi, mereka pun nyemplung ke laut. Apa yang mereka lakukan di sana?

"Kami ingin mengetahui kondisi terumbu karang di Wakatobi, terutama dalam masalah coral bleaching alias pemutihan terumbu karang," kata Joanne Wilson, Deputi Direktur Sains Program Kelautan TNC Indonesia, yang juga menjadi koordinator penelitian. Survei bertajuk "Wakatobi Post-Coral Bleaching Survey"itu juga didukung Taman Nasional Wakatobi dan Konservasi World Conservation Society Indonesia.

Para peneliti lebih dulu menentukan sejumlah titik survei untuk melihat sejauh mana pemutihan karang terjadi. Menurut Joanne, fenomena ini terjadi lantaran alga keluar dari terumbu karang. Seperti diketahui, terumbu karang terdiri dari hewan karang dan tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Antara alga dan karang terjadi simbiosis mutualisme. Alga menggunakan karang sebagai rumah perkembangbiakan, sedangkan karang mendapatkan makanan dari proses fotosintesis yang dilakukan alga. "Ketika suhu air laut naik, terumbu karang mengalami stres. Pada saat itulah alga akan keluar meninggalkan terumbu karang," tutur Joanne.

Karena alga memberikan warna pada karang, maka terumbu karang yang kehilangan alga akan berwarna pucat atau putih. Inilah yang disebut coral bleaching. Karang yang ditinggalkan alga masih hidup, tapi tidak bisa mendapat makanan. Apabila suhu air laut turun, alga bisa kembali muncul, sehingga terumbu karang sehat kembali. "Tapi, jika kenaikan suhu air laut terjadi dalam jangka waktu lama, terumbu karang mengalami kematian," kata Joanne.

Serangan pemutihan karang yang paling serius terjadi pada 1998-1999. Penyebabnya adalah El Nino atau naiknya suhu permukaan air laut. Bak terkena serangan wabah mematikan, pada saat itu diperkirakan 16% populasi terumbu karang di dunia mati. "Ketika itu, banyak orang, termasuk para ilmuwan di dunia, terkaget-kaget atas kejadian itu," ujar Direktur Sains dan Strategi Kelautan TNC Asia Pasifik, Rodney V. Salim.

Menurut dia, para ilmuwan tidak siap menghadapi peristiwa pemutihan karang, meski penelitian soal fenomena itu sudah lam dilakukan. ''Coral bleaching benar-benar menyadarkan orang-orang di seluruh dunia,'' katanya.

Kini wabah putih itu kembali mengancam terumbu karang dunia. Biang keladi timbulnya serangan ini masih sama, yakni El Nino. Fenomena itu utamanya terjadi di wilayah Asia Tenggara dan daerah di sekitar Samudra Hindia, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Maladewa, dan bagian timur Afrika.

Untuk kawasan Indonesia, menurut Joanne, pemutihan terumbu karang terjadi di banyak wilayah, yakni Sabang, Aceh, Padang, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bali, Lombok, Wakatobi, dan sebagainya. Berdasarkan berbagai laporan sejumlah organisasi dan individual, wabah putih terutama terjadi pada Maret-Juli 2010. "Salah satu wilayah yang terparah adalah Aceh. Sekitar 80% terumbu karang mengalami pemutihan pada Mei 2010," ujar Joanne.

Nah, TNC melakukan survei kesehatan terumbu karang di Wakatobi pada April tahun lalu. Hasilnya, sebanyak 60%-65% terumbu karang yang diteliti di delapan lokasi menunjukkan tanda-tanda pemutihan. Dari jumlah itu, sebanyak 10%-17% di antaranya mengalami pemutihan total. Data tersebut menunjukkan bahwa pemutihan karang di Wakatobi juga harus diwaspadai. Maka, TNC menggandeng WWF dan Taman Nasional Wakatobiuntuk melakukan survei coral bleaching di sana.

Survei gabungan pertama digarap lima bulan kemudian. Hasil surveinya lumayan menggembirakan. ''Hampir semua terumbu karang yang diteliti terlihat sudah pulih,'' kata Joanne. Tapi masih terdapat sejumlah tanda pemutihan terumbu karang. Joanne menyatakan, sebanyak 5%-10% terumbu karang yang diteliti telah mengalami kematian, yang diduga akibat pemutihan. Mereka terutama berasal dari jenis Montipora, Pachyseris, Echinopora, dan Acropora.

Dalam survei September 2010, menurut Joanne, tercatat pula adanya kenaikan suhu air laut di Wakatobi. Suhu air laut di sana, yang biasanya 25-26 derajat celsius, pada saat itu mencapai 28-29 derajat celsius. Selain itu, terjadi juga keanehan cuaca. Wakatobi biasanya sedang mengalami musim panas, dengan sinar matahari yang cerah dan gelombang laut yang tenang, pada September. Namun ketika itu ternyata Wakatobi diselimuti hujan dengan angin kencang yang berasal dari arah timur.

TNC menggelar survei kembali pada Januari-Februari 2011 untuk mengetahui apakah masih ada pemutihan karang di Wakatobi atau tidak. ''Kami ingin membandingkan hasil survei ini dengan penelitian sebelumnya,'' ujar Joanne. Tidak hanya serangan wabah putih yang diteliti, tim juga melakukan monitoring pertumbuhan terumbu karang, pengawasan ikan, dan secara khusus mengamati pertumbuhan terumbu karang berukuran kecil.

Penelitian itu dilakukan dengan cara menyelam, kemudian mengamati secara langsung kondisi terumbu karang, lalu mencatatnya. Total ada 24 titik di Wakatobi yang diteliti. Titik-titik penelitian itu tersebar, dari perairan di wilayah empat pulau besar di Wakatobi, yakni Wangi-wangi, Tomia, Kaledupa, dan Binongko, hingga di sekitar pulau kecil tanpa penghuni seperti Pulau Ndaa. Areal penelitian itu meliputi wilayah dengan kedalaman sekitar 10 meter dan 3 meter.

Tentu saja tidak semua terumbu karang yang ada dalam titik penyelaman diteliti. Tim menentukan areal penelitian yang disebut transect. Metode penentuan areal penelitian itu macam-macam. Alat utama yang digunakan untuk membentuk areal penelitian itu adalah roll meter.

Metode pertama disebut belt transect. Dalam metode ini, wilayah penelitian berbentuk persegi panjang, dengan panjang area 50 meter dan lebar sekitar 1 meter. Dalam belt transect, roll meter dibentangkan sejauh 50 meter. Peneliti harus mengamati terumbu karang dari jarak sejauh itu, dengan lebar 0,5 meter sebelah kanan dan 0,5 meter sebelah kiri roll meter.

Guna meminimalkan kesalahan pengamatan, periset harus mengulang pengamatannya minimal tiga kali. "Dalam survei kemarin, metode ini dipakai untuk mengamati secara khusus pemutihan karang dan untuk survei ikan," tutur Joanne.

Metode kedua disebut point intercept transect. Areal penelitian ini berbentuk garis lurus, mengikuti roll meter yang dibentangkan sejauh 150 meter. Garis lurus itu kemudian dibagi-bagi menjadi titik-titik dengan interval 0,5 sentimeter. Dengan cara ini, ada 300 titik yang menjadi area penelitian. Peneliti harus mengamati dan mencatat semua benda laut yang ada di bawah titik-titik tersebut.

Yang dicatat bukan hanya terumbu karang, melainkan juga berbagai biota laut lainnya, seperti alga, sponge, bahkan pasir dan batu. Khusus terumbu karang diklasifikasikan berdasarkan tingkat pertumbuhannya, dari kecil hingga besar. Dalam survei itu, metode ini dipakai untuk mencatat pertumbuhan terumbu karang dan untuk mengetahui persentase terumbu karang dibandingkan dengan benda laut lain di sekitarnya.

Metode ketiga disebut quadrat. Areal penelitiannya berbentuk bujur sangkar, dengan panjang sisi masing-masing 0,5 meter. Dalam survei TNC lalu, metode ini secara khusus digunakan untuk mencatat terumbu karang yang berukuran kurang dari 10 sentimeter. Peneliti harus mencatat semua terumbu karang kecil yang ada di wilayah bujur sangkar dengan sisi 0,5 meter. Areal bujur sangkar itu harus berjumlah 16 buah, masing-masing delapan pada kedalaman 3 meter dan delapan pada kedalaman 10 meter.

Lalu, bagaimana hasilnya? Hingga pekan ini, laporan lengkap ''Wakatobi Post-Coral Bleaching Survey'' periode Januari-Februari 2011 belum selesai dikerjakan. Namun beberapa anggota tim survei yakin, secara umum terumbu karang di Wakatobi telah pulih dari gejala pemutihan. Meski begitu, ancaman coral bleaching belum benar-benar hilang.

Menurut Rizya Legawa, Deputi Ilmuwan Program Kelautan TNC Indonesia, untuk memberi kemungkinan terumbu karang yang terkena pemutihan bisa pulih, maka kandungan substrat di permukaan terumbu karang harus terjaga. Substrat berfungsi sebagai tempat penempelan larva karang yang baru lahir. ''Menjaga ketersediaan substrat sama dengan menyediakan tempat untuk penempelan larva karang,'' Rizya memaparkan.

Joanne mengatakan, supaya bisa menjadi tempat penempelan larva karang, substrat harus bersih dari makroalga dan turf alga serta pasir dan sedimentasi. ''Agar karang punya kemungkinan besar untuk pulih, kita harus menjaga substrat tetap bersih dari alga dan pasir,'' ujarnya. Untuk melakukan hal itu, menurut Joanne, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Langkah pertama adalah menjaga populasi ikan herbivora, yakni ikan kakaktua, baronang, dan sebagainya. Ikan herbivora akan memakan makroalga dan turf alga sehingga menjaga permukaan terumbu karang tetap bersih. Permukaan karang yang bersih dari alga bakal menjadi pijakan bagi karang baru yang akan bergabung.

Kedua, memastikan bahwa tingkat sedimentasi di terumbu karang tetap rendah. Sedimentasi dari air kotor, erosi, atau sampah akan membuat makroalga dan turf alga tumbuh pesat. Padahal, dua jenis alga itu akan menghambat penempelan karang baru.

Tahap ketiga adalah menjaga agar tidak terjadi aktivitas pencarian ikan yang merusak terumbu karang. "Ini untuk menjaga supaya hewan karang tetap hidup, sehingga mereka bisa menghasilkan larva yang menambah jumlah hewan karang," kata Joanne. Praktek pencarian ikan yang merusak akan membunuh hewan karang dan menghancurkan struktur terumbu karang.

Meski tidak mudah, semua proses itu harus dilakukan, supaya terumbu karang punya kemungkinan besar untuk pulih setelah terjadinya pemutihan.
Baca Selengkapnya...

Budi Daya Ikan Sidat

TENTUNYA pertambahan penduduk dunia meningkatkan kebutuhan akan sumber protein makanan daging dan ikan. Namun, penangkapan ikan yang hampir tidak terkendali dan dampak pencemaran laut oleh limbah rumah tangga, industri atau tumpahan minyak yang makin meluas, mengurangi dan memutus siklus kehidupan ikan di perairan seluruh dunia, sehingga menjadikan perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan makin besar dan tajam.

Pada sisi lain, manfaat ikan makin disadari sebagai pemacu pertumbuhan tubuh manusia, peningkatan kemampuan otak manusia, mencegah kolestrol / penyakit jantung, serta manfaat lain bagi kesehatan manusia.
Sehingga, kebutuhan ikan makin bertambah. Salah satu jenis ikan yang dianggap sangat bermanfaat bagi manusia (Jepang dan Korea) adalah ikan belut atau Sidat atau eel (anguilla bicolor).
Karena dengan mengonsumsi ikan secara teratur, bagi orang Jepang dan Korea, di samping memacu pertumbuhan tinggi badan juga menstimulasi intelektual bangsa dan menjadikan mereka sebagai negara industri modern.
Cukup Cerah

Jepang mengimpor ikan Sidat dari China dan Vietnam hampir 500.000 ton per tahun. Namun permintaan yang terus bertambah, sukar dipenuhi karena pencemaran lingkungan di kedua negara ini pun telah makin parah akibat pertumbuhan industri.

Negara-negara Eropa juga merupakan pasar yang berpotensi tinggi, karena mereka juga banyak mengonsumsi ikan.
Budidaya Sidat mungkin masih kalah populer dari ikan-ikan jenis lain seperti lele, gurami, Ikan mas dan ikan lain. Meskipun demikian, potensi bisnis ikan Sidat cukup cerah untuk dicoba.

Di dalam negeri, ikan Sidat memang belum menempati posisi yang bagus, karena harganya sangat mahal. Tapi di Jepang, Macau, Taiwan, Cina dan Hong Kong, Ikan Sidat banyak digemari. Selain karena kandungan gizi yang tinggi, harga ikan ini sangatlah fantastis, sehingga peluang bisnisnya sangat bagus.
Ikan sidat merupakan salah satu kekayaan laut Indonesia. Di perairan Indonesia sumberdaya benih Ikan Sidat cukup berlimpah. Setidaknya, terdapat empat jenis, yaitu Anguilla bicolor, Anguilla marmorata, Anguilla nebulosa, dan Anguilla celebesensis.  Awal mula ekspor ikan ini, Indonesia mengandalkan tangkapan dari alam, namun lambat laun budidayanya mulai digalakkan.

Budi Daya

Anda tertarik untuk membudidayakannya? Budidaya ikan Sidat relatif tidak sulit. Apalagi rasio hidup sangat tinggi, sekitar 90 persen, karena Sidat mempunyai daya tahan kuat terhadap penyakit.
Lamanya budi daya tergantung ukuran benih. Paling banyak yang dibudidayakan adalah ukuran 200 gram untuk menghasilkan panen > 500 gram.
Lama budidaya maksimal lima bulan. Tingkat produktivitasnya juga cukup bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan.

Sekarang, makin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan jenis ini. Sebab, budidaya ikan Sidat dipastikan menguntungkan. Secara praktis ikan ini dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba jaring apung.
Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya, yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya. Pada pemeliharaan benih lokal, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29C, sedangkan salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 - 7 ppt.

Pakan

Selain itu, kandungan oksigen minimal yang dapat ditoleransi oleh ikan ini berkisar antara 0,5 - 2,5 ppm dan pH optimal.
Seperti halnya jenis lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling). Biasanya, pakan yang diberikan adalah buatan berbentuk pasta dengan kandungan : Protein 47,93%, Lemak 10,03%, Seratkasar 8,00%, BETN 8,32% dan Abu 25,71%

Sebenarnya Sidat termasuk ikan carnivora, pemakan daging,  cacing, cacahan keong, cacahan bekicot,  dan pelet.  Dan Sidat lebih suka makan makan di dasar kolam, bukan terapung.
Pemeliharaan Ikan Sidat pada kolam biasanya selama 7 - 8 bulan, dan masa panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan.

Panen

Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan tersebut  membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Ukuran Ikan Sidat yang, dipanen dapat mencapai ukuran konsumsi, yaitu 180 - 200 gram per ekor.
Sidat yang dipanen diletakkan di  dalam keranjang plastik.  Keranjang ini diletakkan di dalam bak berisi air dengan sirkulasi.  Pakan tidak diberikan selama satu hari sebelum pengangkutan ke pasar.

Untuk pengangkutan selama lima sampai 10 jam dapat digunakan keranjang plastik, yaitu 10 keranjang yang berisi 4-5kg ditumpuk dan air dingin dipancurkan di atas tumpukan keranjang tersebut.
Satu keranjang berisi 1-2 kg es batu, kemudian diletakkan di atas tumpukan tersebut.  Tumpukan tadi kemudian dimuat ke atas truk dengan ditutup kain kanvas.
Untuk jarak jauh, yang memerlukan waktu 20 sampai 30 jam, Sidat dikemas dalam kantong plastik lapis dua berkapasitas 8 liter, diisi 1-2 liter air, 0,5-1kg es batu dan gas oksigen.  Satu kantong dapat diisi 5-10 kg.  Biasanya, dua kantong dikemas dalam satu kotak Styrofoam.

Potensi sumber daya ikan Sidat yang cukup besar namun pemanfaatannya yang belum optimal, sebenarnya mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat, melalui penciptaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja dalam kegiatan-kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan dan tataniaganya, apabila diupayakan secara sungguh-sungguh dan bijaksana. Selamat mencoba.,!! (Dela SY,dari berbagai sumber-12)
Baca Selengkapnya...

Light Fishing

1. Alat Tangkap Purse Seine
Purse seine tergolong dalam alat tangkap jaring lingkar dengan menggunakan tali kerut (purse line) yang terletak di bagian bawah jaring. Dengan adanya tali kerut memungkinkan jaring ditutup seperti pundi-pundi terbalik dan mengurung ikan yang tertangkap. Pukat cincin dapat berukuran sangat besar dan dioperasikan oleh satu atau dua buah kapal. Biasanya purse seine dioperasikan oleh satu kapal dengan atau tanpa bantuan kapal pembantu (Nedelec, 2000).

Menurut Subani dan Barus (1989), purse seine biasa disebut juga dengan jaring kantong karena bentuk jaring tersebut waktu dioperasikan menyerupai kantong. Pukat cincin kadang-kadang juga disebut jaring kolor karena pada bagian bawah jaring (tali ris bawah) dilengkapi dengan tali kolor yang gunanya untuk menyatukan bagian bawah jaring sewaktu operasi dengan cara menarik tali kolor tersebut. Pukat cincin digunakan untuk menangkap ikan yang bergerombol (scholling) di permukaan laut. Oleh karena itu, jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap purse seine adalah jenis-jenis ikan pelagis yang hidupnya bergerombol seperti layang, lemuru, kembung, sardinella, tuna. Ikan-ikan yang tertangkap dengan purse seine dikarenakan gerombolan ikan tersebut dikurung oleh jaring sehingga pergerakannya terhalang oleh jaring dari dua arah, baik pergerakan ke samping maupun ke arah dalam.

Bagian-bagian jaring purse seine terdiri atas jaring utama (sayap, badan dan kantong), selvedge, tali ris atas, tali pelampung, pelampung, tali ris bawah, pemberat, tali ring, ring/cincin dan tali kolor. Berdasarkan bentuk jaring utama, purse seine dibagi menjadi 3, yaitu bentuk segi empat, bentuk trapesium dan bentuk lekuk. 

Pada umumnya penangkapan ikan dengan purse seine dilakukan pada malam hari, akan tetapi ada juga purse seine yang dioperasikan pada siang hari. Pengumpulan ikan pada area penangkapan pukat cincin ada yang menggunakan rumpon dan ada pula yang menggunakan lampu. Umumnya setting (penurunan) dilakukan dua kali selama satu malam operasi, yang dilakukan pada waktu senja hari dan pagi hari/fajar, kecuali dalam keadaan tertentu frekuensi penangkapan bisa dikurangi atau ditambah (Sudirman dan Mallawa, 2004).

Ukuran pukat cincin yang digunakan oleh setiap nelayan umumnya berbeda-beda. Yang dimaksud dengan ukuran umum ini adalah ukuran-ukuran yang berhubungan dengan perbandingan antara panjang dan dalamnya jaring serta nomor-nomor bahan yang dipergunakan. Berbagai macam faktor yang berpengaruh terhadap perbandingan ukuran pada pukat cincin adalah ukuran kapal (panjang dan lebar) yang digunakan, jenis ikan-ikan yang akan tertangkap dan waktu pengoperasian. Pukat cincin yang dioperasikan pada malam hari dengan menggunakan alat bantu cahaya memiliki ukuran panjang lebih kecil bila dibandingkan dengan purse seine pada siang hari. Oleh karena itu, terdapat penggolongan purse seine dalam skala kecil, sedang dan besar. Hal ini mempengaruhi trip penangkapan purse seine di laut, dimana pengoperasian mini purse seine relatif lebih pendek trip penangkapannya bila dibandingkan dengan medium atau large purse seine (Sudirman dan Mallawa, 2004).

2. Perikanan Lampu ( Light Fishing )
Tertariknya ikan pada cahaya sering disebutkan karena terjadinya peristiwa fototaxis. Cahaya merangsang ikan dan menarik ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya tersebut atau juga disebutkan karena adanya rangsangan cahaya, ikan kemudian memberikan responnya. Peristiwa ini dimanfaatkan dalam penangkapan ikan yang umumnya disebut light fishing atau dari segi lain dapat juga dikatakan memanfaatkan salah satu tingkah laku ikan untuk menangkap ikan itu sendiri. Dapat juga dikatakan bahwa dalam light fishing, penangkap ikan tidak seluruhnya memaksakan keinginannya secara paksa untuk menangkap ikan tetapi menyalurkan keinginan ikan sesuai dengan nalurinya untuk ditangkap. Fungsi cahaya dalam penangkapan ikan ini ialah untuk mengumpulkan ikan sampai pada suatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring ataupun pancing dan alat-alat lainnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).

Penggunaan lampu untuk penangkapan ikan di Indonesia dewasa ini telah sangat berkembang, sehingga di tempat-tempat yang terdapat kegiatan perikanan laut, hampir dapat dipastikan terdapat lampu yang digunakan untuk usaha penangkapan ikan. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian batas optimum kekuatan intensitas cahaya telah menjadi salah satu pokok bagian dari penelitian para ahli biologi laut kelautan. Ayodhyoa (1981) mengatakan agar light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, maka diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :
ô Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh, baik secara horisontal maupun vertikal.
ô Ikan-ikan tersebut diupayakan berkumpul ke sekitar sumber cahaya.
ô Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada dalam area sumber cahaya pada suatu jangka waktu tertentu ( minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi ).
ô Pada saat ikan-ikan tersebut berkumpul di sekitar sumber cahaya, diupayakan semaksimal mungkin agar ikan-ikan tersebut tidak melarikan diri ataupun menyebarkan diri.

Dilihat dari tempat penggunaannya dapat dibedakan antara lain lampu yang dipergunakan di atas permukaan air dan lampu yang dipergunakan di dalam air. Menurut Ayodhyoa (1976) perbandingan antara lampu yang dipasang di atas permukaan air dengan lampu yang digunakan di bawah permukaan air adalah sebagai berikut :
a. Lampu yang dinyalakan di atas permukaan air :
1. Memerlukan waktu yang lebih lama untuk menarik ikan berkumpul.
2. Kurang efisien dalam penggunaan cahaya, karena sebagian cahaya akan diserap oleh udara, terpantul oleh permukaan gelombang yang berubah-ubah dan diserap oleh air sebelum sampai kesuatu kedalaman yang dimaksud dimana swiming layer ikan tersebut berada.
3. Diperlukan waktu yang lama supaya ikan dapat naik ke permukaan air dan dalam masa penerangan, ikan-ikan tersebut kemungkinan akan berserak.
4. Setelah ikan-ikan berkumpul karena tertarik oleh sumber cahaya dan berada di permukaan, sulit untuk menjaga ikan tetap tenang, karena pantulan cahaya pada permukaan air yang terus bergerak.
b. Lampu yang dinyalakan di bawah permukaan air :
1. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan ikan lebih sedikit.
2. Cahaya yang digunakan lebih efisien, cahaya tidak ada yang memantul ataupun diserap oleh udara, dengan kata lain cahaya dapat dipergunakan hampir seluruhnya.
3. Ikan-ikan yang bergerak menuju sumber cahaya dan berkumpul, lebih tenang dan tidak berserakan, sehingga kemungkinan ikan yang tertangkap lebih banyak.

Struktur lampu di dalam air sangat berbeda dengan lampu-lampu biasa yang digunakan di atas permukaan air. Penetrasi cahaya pada perairan sangat bergantung sekali terhadap kondisi perairan itu sendiri dan yang paling menentukan adalah warna laut dan tingkat transparansi air. Warna laut dalam hal ini berhubungan dengan jenis warna lampu yang dipancarkan dari lampu itu sendiri. Warna lampu yang sinarnya dapat menembus kedalaman tertinggi tentunya adalah warna lampu yang sejenis dengan warna perairan pada waktu itu dan juga tergantung pada kondisi perairannya. Semakin besar tingkat transparansi perairan semakin besar pula tingkat kedalaman penetrasi sumber cahaya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa warna cahaya yang baik digunakan pada light fishing adalah biru, kuning dan merah (Sudirman dan Mallawa, 2004).

3. Kuat Dan Kemampuan Penglihatan Ikan Dalam Air
Cahaya yang masuk ke dalam air akan mengalami pereduksian yang jauh lebih besar bila dibandingkan dalam udara. Hal tersebut terutama disebabkan adanya penyerapan dan perubahan cahaya menjadi berbagai bentuk energi, sehingga cahaya tersebut akan cepat sekali tereduksi sejalan dengan semakin dalam suatu perairan. 

Pembalikan dan pemancaran cahaya yang disebabkan oleh berbagai partikel dalam air, keadaan cuaca dan gelombang banyak memberikan andil pada pereduksian cahaya yang diterima air tersebut. Dengan demikian daya penglihatan ikan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut (Gunarso, 1985).

Kemampuan mengindera dari mata ikan memungkinkan untuk dapat melihat pada hampir ke seluruh bagian dari lingkungan sekelilingnya. Hanya suatu daerah sempit pada bagian sebelah belakang ikan yang tidak dapat dicakup oleh luasnya area yang dapat dilihat oleh ikan, daerah sempit ini dikenal sebagai “dead zone.” 

Sedangkan untuk jarak penglihatan, tidak hanya tergantung pada sifat indera penglihat saja, tetapi juga pada keadaan penglihatan di dalam air. Pada kejernihan yang baik dan terang maka jarak penglihatan untuk benda-benda yang kecil tergantung pada kemampuan jelasnya penglihatan mata, misalkan pada jarak dimana titik-titik yang letaknya bersekatan, dapat dibedakan sebagai dua titik dan tidak sebagai satu titik ataupun kabur kelihatannya. Dalam keadaan tertentu, beberapa jenis ikan yang berukuran besar mempunyai kemampuan untuk bisa melihat benda-benda yang agak besar dan berwarna kontras dengan latar belakangnya pada jarak beberapa puluh meter. Anak-anak ikan mempunyai daya penglihatan yang sangat dekat. Seekor anak ikan atherina berukuran 2 cm dapat membedakan benda-benda pada jarak 20 cm, sedangkan yang berukuran 0,8 cm hanya mampu membedakannya pada jarak 6-8 cm. Dalam keadaan perairan yang keruh, kemampuan daya penglihatan ikan pada suatu objek yang terdapat di dalam air akan sangat jauh berkurang. Namun tidaklah mengherankan beberapa jenis ikan mampu mempertahankan hidupnya ketika mata ikan tersebut menjadi buta (Gunarso, 1985).

Berbagai jenis ikan yang banyak dijumpai pada lapisan air yang relatif dangkal, banyak menerima cahaya matahari pada waktu siang hari dan pada umumnya ikan-ikan yang hidup di daerah tersebut mampu membedakan warna sama halnya dengan manusia sedangkan beberapa jenis ikan yang hidup di laut dalam, dimana tidak semua jenis cahaya dapat menembus, maka banyak diantara ikan-ikan tersebut tidak dapat membedakan warna atau buta warna. Ketajaman warna yang dapat dilihat oleh mata ikan juga merupakan hal penting. Pada kenyataannya, sesuatu yang mampu diindera oleh mata ikan memungkinkan ikan tersebut untuk dapat membedakan benda-benda dengan ukuran tertentu dari suatu jarak yang cukup jauh. Semakin kabur tampaknya suatu benda bagi mata ikan, maka hal tersebut menyatakan bahwa kemampuan mata ikan untuk menangkap kekontrasan benda terhadap latar belakangnya semakin berkurang (Gunarso, 1985).

Ikan sebagaimana jenis hewan lainnya mempunyai kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari yang berkekuatan penerangan beberapa ribu lux hingga pada keadaan yang hampir gelap sekalipun. Struktur retina mata ikan yang berisi reseptor dari indera penglihat sangat bervariasi untuk jenis ikan yang berbeda. Pada ikan teleostei memiliki jenis retina duplek, dengan pengertian bahwa dalam retina ikan tersebut terdapat dua jenis reseptor yang dinamakan rod dan kon. Pada umumnya terjadi distribusi yang berbeda dari kedua jenis reseptor tersebut, yang biasanya erat hubungannya dengan pemanfaatan indera penglihatan ikan dalam lingkungan hidupnya. Untuk berbagai jenis ikan pelagis sebagaimana dijumpai pada berbagai jenis ikan dari keluarga Clupeidae, ikan-ikan tersebut memiliki pengkonsentrasian kon yang sangat padat pada area antara ventro-temporal yang dibatasi oleh “area temporalis”. Pada Sardinops caerulea dan Alosa sapidissimn, area temporalis tersebut sangat jelas dan bahkan pada jenis ikan ini reseptor hampir seluruhnya hanya terdiri dari kon saja, rod hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali (Gunarso, 1985).

Jenis ikan yang aktif pada siang hari, umumnya mempunyai kon yang tersusun dalam bentuk barisan ataupun dalam bentuk empat persegi. Pada umumnya ikan-ikan yang memiliki kon dalam bentuk seperti ini adalah jenis ikan yang intensif sekali menggunakan indera penglihatnya, biasanya ikan-ikan tersebut termasuk dalam jenis ikan yang aktif memburu mangsa. Untuk jenis-jenis ikan yang aktif pada malam hari atau jenis ikan yang hidup pada lapisan dalam, banyaknya kon sangat kurang atau tidak ada sama sekali dan kedudukan kon tersebut digantikan oleh rod (Gunarso, 1985).

Retina dengan seluruh reseptornya terdiri dari rod banyak dijumpai pada jenis-jenis ikan bertulang rawan, walau beberapa diantaranya masih dijumpai adanya kon pada retina mata ikan-ikan tersebut. Retina yang keseluruhannya terdiri dari rod juga banyak dijumpai pada berbagai ikan teleostei yang hidup di laut dalam. 

Hasil penghitungan banyaknya rod pada beberapa jenis ikan laut dalam, menunjukkan jumlah yang lebih dari 25 juta rod/mm retina. Hal ini menunjukkan bahwa mata jenis ikan laut demersallah yang mempunyai tingkat sensitifitas tertinggi. Ikan-ikan pelagis yang memangsa makanannya yang berupa plankton, pada umumnya jenis ikan ini mempunyai distribusi kon yang sangat padat pada bagian ventro-temporal yang menunjukkan kemampuan untuk melihat kedepan dan ke arah atas. Sedangkan jenis ikan pelagis yang berasal dari perairan yang cukup dalam biasanya justru mempunyai retina yang seluruhnya dipenuhi oleh rod saja dan bentuk mata ikan-ikan tersebut cukup besar. Diantara jenis ikan demersal yang biasanya memburu mangsa, memiliki retina yang kaya akan kon pada bagian temporal, tapi terjadi perbedaan yang mencolok sehubungan jumlah kon pada bagian-bagian retina yang lain, seperti halnya pada jenis predator pelagis yang mempunyai kemampuan melihat arah lurus ke depan. Contoh untuk jenis ikan ini antara lain adalah Cod, Coalfish dan keluarga Labridae (Gunarso, 1985).

4. Respon Ikan Pelagis Terhadap Cahaya
Cahaya dengan segala aspek yang dikandungnya seperti intensitas, sudut penyebaran, polarisasi, komposisi spektralnya, arah, panjang gelombang dan lama penyinaran, kesemuanya akan mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkah laku dan fisiologi ikan pelagis. Ikan mempunyai respon terhadap rangsangan yang disebabkan oleh cahaya, meskipun besarnya kekuatan cahaya tersebut berkisar antara 0,01-0,001 lux, dimana hal ini bergantung pada kemampuan suatu jenis ikan untuk beradaptasi (Laevastu dan Hayes, 1991). Hasil pengamatan dengan echosounder dapat diketahui bahwa suatu lampu yang oleh mata manusia hanya mampu diindera oleh manusia sampai kedalaman 15 m saja, ternyata mampu memikat ikan sampai kedalaman 28 m. Ikan juga mempunyai daya penglihatan yang cukup baik dalam hal membedakan warna. Dari sejumlah percobaan yang telah dilakukan, ternyata ikan sangat peka terhadap sinar yang datang dari arah dorsal tubuhnya. Ikan ternyata tidak menyukai cahaya yang datang dari arah bawah tubuhnya (ventral) dan bila keadaannya tidak memungkinkan untuk turun ke lapisan air yang lebih dalam lagi, dalam usaha untuk menghindari posisinya semula, ikan-ikan tersebut akan menyebar ke arah horisontal (Gunarso, 1985).

Ada jenis ikan yang bersifat fototaxis positif, yaitu bahwa ikan akan bergerak ke arah sumber cahaya karena rasa tertariknya, sebaliknya beberapa jenis ikan bersifat fototaxis negatif yang memberikan respon dan tindakan yang sebaliknya dengan yang bersifat fototaxis positif. Karena adanya sifat fototaxis positif ini, maka ada beberapa jenis ikan ekonomis penting yang dapat dipikat dengan cahaya buatan pada malam hari. Bagi beberapa ikan bahwa adanya cahaya juga merupakan indikasi adanya makanan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan yang dalam keadaan lapar akan lebih mudah terpikat oleh adanya cahaya daripada ikan yang dalam keadaan tidak lapar. Bahkan adakalanya ikan-ikan tersebut akan muncul ke permukaan, ke arah cahaya dengan tiba-tiba walaupun mungkin setelah selang beberapa menit ikan akan menyebar dan meninggalkan tempat tersebut. Respon ikan muda terhadap rangsangan cahaya adalah lebih besar daripada respon ikan dewasa dan setiap jenis ikan mempunyai intensitas cahaya optimum dalam melakukan aktifitasnya (Gunarso, 1985).

Daerah penerangan dimana ikan memberikan respon terhadap cahaya disebut daerah phototaxis. Di luar batas daerah phototaxis ini respon ikan terhadap cahaya tidak ada, karena kuat penerangannya sudah lemah. Semakin besar daerah phototaxis ini semakin banyak ikan yang terkumpul dan semakin banyak pula ikan yang tertangkap dekat dengan sumber cahaya (Fridman, 1969).

Terdapat keseimbangan batas intensitas tertentu untuk suatu jenis ikan terhadap intensitas cahaya yang ada. Jenis ikan teri memiliki variasi yang jelas tentang pergerakan renang ikan di kedalaman tertentu pada waktu siang hari. Jenis ikan ini akan berenang atau berada lebih dekat ke permukaan pada waktu pagi dan sore hari bila dibandingkan pada saat tengah hari. Diantara berbagai jenis ikan yang benar-benar phototaxis positif antara lain adalah jenis sardinella, layang, selar dan ikan herring muda (Gunarso, 1985).

Richardson (1952) dalam Laevastu dan Hella (1970), menyatakan bahwa salah satu jenis ikan sardin yang dikenal sebagai ikan Pilchard dapat dipikat dengan menggunakan cahaya lampu pada waktu malam hari. Selain itu, kedalaman kelompok ikan herring dapat juga ditentukan berdasarkan intensitas cahaya. Ikan herring dewasa tidak bersifat phototaxis positif karena ikan tersebut lebih menyukai daerah yang berintensitas cahaya rendah. Namun demikian, ikan ini dapat juga tertarik pada cahaya buatan pada waktu malam bila saja cahaya yang dipakai tidak begitu kuat.

Pada umumnya ikan pelagis akan muncul ke lapisan permukaan sebelum matahari terbenam dan biasanya ikan-ikan tersebut akan membentuk kelompok. Sesudah matahari terbenam, ikan-ikan tersebut menyebar ke dalam kolom air dan mencari lapisan yang lebih dalam, sedangkan ikan demersal biasanya menyebar ke dalam kolom air selama malam hari. Dengan mengetahui ruaya ikan secara vertikal harian suatu jenis ikan, maka waktu untuk melakukan pengoperasian alat penangkapan dapat ditentukan. Selain itu kemungkinan berhasilnya penangkapan dengan bantuan sinar lampu akan lebih besar. Penangkapan dengan bantuan lampu akan lebih efektif sebelum tengah malam dan hal ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa fototaxis yang maksimal bagi ikan adalah pada waktu-waktu tersebut (Laevastu dan Hella, 1970).

Cahaya yang masuk ke dalam air laut akan mengalami refraction atau pembiasan, penyerapan (absorption), penyebaran (scattering), pemantulan (reflection) dan lain-lain (Ayodhyoa, 1981). Cahaya lebih jelas terlihat pada keadaan air yang jernih daripada air yang telah menjadi keruh dan meyebabkan cahaya menjadi melemah atau bahkan hilang sama sekali. Pengukuran cahaya dapat digambarkan sebagai berikut:
E = F / A , E = I / R2
E = Kuat penerangan (Lux)
F = Flux cahaya (lumen)
A = Luas sebaran cahaya (m2)
I = Intensitas cahaya (candela)
R = Radius penerangan (meter)
Dimana kuat penerangan E (lux) sebanding dengan Intensitas Cahaya I (candela ) dan berbanding terbalik dengan radius penerangan (meter). Kuat penerangan berkurang dengan bertambahnya kuadrat jarak sumber cahaya dan intensitas cahaya berkurang dengan cepat dari jarak sumber cahaya pada medium yang berbeda. 

Kuat penerangan ini erat hubungan dengan tingkat sensitifitas penglihatan ikan, dengan kata lain bahwa berkurangnya derajat penerangan akan menyebabkan berkurangnya jarak penglihatan ikan. Jadi dengan berkurangnya kekuatan penerangan beberapa puluh lux saja, maka jarak penglihatan ikan terhadap objek akan menurun pula. Jarak penglihatan ikan juga tergantung pada ukuran objek itu sendiri (Fridman, 1969).

5. Karakteristik Dan Tingkah Laku Ikan Pelagis Yang Dominan Tertangkap
Pada Purse Seine
Purse seine adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis yang membentuk gerombolan dan berada dekat dengan permukaan air. Sasaran penangkapannya adalah ikan-ikan pelagis seperti ikan kembung, selar, tetengkek, tembang.
1. Ikan kembung
Ikan kembung yang tertangkap di perairan Indonesia rata-rata terdiri atas dua spesies, yaitu kembung perempuan (Rastrelliger negletus) dan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta). Kedua ikan kembung tersebut mempunyai sifat dan ciri-ciri yang berbeda. Kedua ikan kembung tersebut termasuk dalam famili Scombridae, yaitu jenis ikan yang suka hidup bergerombol. Ikan kembung merupakan ikan pelagis yang memakan plankton halus. Badan tidak begitu langsing, tetapi pendek dan gepeng. Tubuh bagian atas berwarna kehijauan dan putih perak pada bagian bawah, terdapat totol-totol hitam pada bagian punggung, sirip punggung pertama kuning keabuan dengan pinggiran gelap. Perut dan sirip dada berwarna kuning maya gelap dan sirip lainnya berwarna kekuningan. Ikan kembung ini memiliki finlet berjumlah 5-7, ukuran tubuhnya mencapai 15-30 cm. Ikan kembung biasanya hidup lebih mendekati pantai dan membentuk gerombolan besar. Daerah penyebarannya di perairan pantai Indonesia dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan, Sumatera Barat, Laut Jawa dan Selat Malaka (Anonymous, 1975).
Ikan kembung cenderung berenang mendekati permukaan air pada waktu malam hari dan pada siang hari turun ke lapisan yang lebih dalam. Gerakan vertikal ini dipengaruhi oleh gerakan harian plankton dan mengikuti perubahan suhu, faktor hidrografis dan salinitas. Damanhuri (1980) menyatakan bahwa umumnya sifat dari ikan kembung adalah :
ü Termasuk ikan pelagis yang daerahnya penyebarannya luas.
ü Selalu hidup bergerombol, dapat berenang dengan cepat yang ditandai dengan bentuk tubuh yang stream line dan menyukai makanan berupa ikan-ikan kecil/plankton hewani.
ü Reproduksinya adalah ovoparus yaitu telur dibuahi diluar tubuh ikan dan telurnya bersifat planktonis.
2. Ikan selar
Ada dua jenis ikan selar yang dominan tertangkap di perairan Indonesia, yaitu selar kuning (Selaroides leptolepis) dan selar bentong (Selar crumenophthalmus). Mempunyai bentuk badan agak lebar dan memanjang, matanya besar, terdapat 2 duri di muka sirip dubur. Pada bagian ekor terdapat scute, sirip dada berbentuk meruncing ke ujungnya seperti bulan sabit. Berwarna biru kehijau-hijauan pada bagian punggung dan putih keperak-perakan di bagian perut. Sebagian mempunyai garis sisi yang berwarna kuning yang dimulai dari belakang mata sampai ke ujung ekor. Daerah penyebaran ikan selar terdapat hampir di seluruh perairan Indonesia (Anonymous, 1975).
3. Ikan tembang
Ikan tembang (Sardinella fimbriata) memiliki ciri-ciri morfologi: bentuk badan bulat memanjang, terdapat ventral scute yang dimulai dari bawah pangkal sirip dada sampai dubur. Sirip punggung terletak di tengah-tengah antara moncong dan ekor. Warna punggung hijau sedangkan warna perut keperak-perakkan, terdapat sabuk kuning membujur badan. Panjang badan umumnya kira-kira 14 cm. Habitat ikan tembang adalah di sepanjang perairan pantai dan merupakan spesies permukaan. (Anonymous, 1975).
4. Ikan tetengkek
Ikan tetengkek atau dalam bahasa latinnya disebut Megalaspis cordyla merupakan ikan pelagis yang terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia. Bentuk badannya seperti torpedo, mempunyai 6-9 sirip tambahan di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Terdapat scute yang panjang di sepanjang gurat sisi (linea lateralis). Ekornya keras berbentuk langsing dan bercabang dalam, mempunyai 2 duri di muka sirip dubur. Pada tutup insang terdapat noda hitam, sedangkan warna tubuh bagian atas hitam kehijauan dan di bagian bawah tubuh berwarna putih keperakan. Alat tangkap yang sering digunakan untuk menangkap ikan tetengkek antara lain gill net, payang, muroami dan purse seine (Anonymous, 1975).
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1975. Standard Statistik Perikanan. Buku I. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Anonymous. 2002. Profil Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Ayodhyoa. 1976. Teknik Penangkapan Ikan. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayodhyoa. 1981. Metode Penangkapan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Damanhuri. 1980. Diktat Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Effendi, M.I. 1979. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Tama. Yogyakarta.
Fridman, A.L. 1969. Theory And Design Of Commercial Fishing Gear. Israel Program For Scientific Translation. Jerusalem.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat, Metoda Dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Hidayat, S. dan Sedarmayanti. 2002. Metodologi Penelitian. Mandar Maju. Bandung.
Laevastu, T. and I. Hella. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London.
Laevastu, T. and M.L. Hayes. 1991. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News. Farnham.
Muhammad, S. 1991. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Mitsugi, S. 1974. Fish Lamps. Japanese Fishing Gear and Methods Textbook for Marine Fisheries Research Course. Japan.
Nedelec, C. 2000. Definisi Dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan. Published by Arrangement with the Food and Agriculture Organization of The United Nation. Diterjemahkan oleh Bagian Proyek Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Baca Selengkapnya...